Desember 2007, mungkin masa yang tidak akan terlupakan dalam sejarah hidupku. Tiada kuduga sama sekali, jika kepulanganku ke tanah air tercinta, akan dijemput oleh seseorang yang pernah pertama kali mengisi hatiku. Waktu itu, aku benar-benar kaget, bahkan sampai bengong sesaat mengingat sosoknya. Maklum, hampir sepuluh tahun lamanya kami tak berjumpa.
“Lho, Akhi…?”ucapku, grogi, bahkan gak percaya sama sekali.
“Iya, ini Ade, tetangga kita. Masa kamu lupa.”jawab mamaku. Pemuda itu hanya tersenyum.
“Sudah jadi orang Hong Kong nih, ceritanya, Sampai lupa sama teman sendiri.” Ucapnya. Seketika aku merona. Segera kutelungkupkan kedua tanganku ke depan dada, sambil tersenyum padanya. Dia juga melakukan hal yang sama. Pada mama dan adik-adik, kupeluk tubuh mereka satu persatu. Alhamdulillah kerinduan akhirnya, termuara jua. Pujiku, berucap syukur pada-Nya.
“Kok, dia tahu kalau aku mau pulang? Bagaimana ceritanya, Mam.” bisikku
“Iya, seminggu yang lalu kami bertemu di komplek. Mama juga nggak hafal dia. Tapi dia bilang, ngliat mama itu sama seperti ngliat wajahmu, jadi dia beranikan diri untuk menyapa Mama. Iya, kanDe?” Tanya mama padanya. Ade tersenyum mengiyakan. Maklum, mama berpindah ke Jakarta sewaktu kami masih kecil, mungkin hampir dua puluh tahun mereka berdua tak bertemu. Akhirnya, obrolan diteruskan di dalam mobil travel
Jarak antara Bandara Sukarno Hatta--Rawamangun, Jakarta Timur, tak seberapa lama. Sehingga kami merasa, belum puas menikmati obrolan nostalgia. Mama menyuruh Ade, untuk menginap di rumah kami. Akhirnya, diapun setuju.
***
Aneh. Malam itu, aku sama sekali tak bisa tidur. Walaupun dari kemarin aku nggak tidur karena sibuk menyiapkan keperluan ini itu serta barang-barang yang akan di bawa pulang sewaktu di Hong Kong, namun entahlah, sesampainya di rumahpun, tetap tak bisa tertidur.
Mama menemaniku duduk di ruang tamu. Mendengar obrolan, Adepun akhirnya keluar kamar. Dia juga bilang tak bisa tidur, mungkin masih kaget melihatku, teman masa kecilnya, atau karena bukan rumah sendiri. Kembali kami ngobrol, tepatnya bernostalgia masa kecil. Mama membuat kopi buat kami bertiga, katanya, biar nggak ngantuk. Mau bergadang sampai pagi. Sementara, adik-adiku yang lain, kembali melanjutkan tidurnya.
Mama banyak bertanya kepada Ade, kemana selama dua puluh tahun belakangan ini. Diapun bercerita dengan sopannya dari A sampai Z. Hingga sampailah pada obrolan masa kecil kami sewaktu di kampung.
Dalam senyum dan tawa kami, dadaku berdegup kencang setiap kali mata kami beradu. Hiks,…..lucu, yah. Padahal, kami tidak sedang berpacaran, lho saat itu. Tapi entahlah, sepertinya, bayangan masa lalu kembali menyapa nuraniku saat menatap matanya.
***
Dulu. Duluuuuu sekali, (Hi hi hi….) saat kami masih kanak-kanak. Banyak kenangan manis yang tak bisa kami lupakan sampai saat ini. Orang bilang, masa kecil memang masa-masa yang indah, masa yang takkan pernah terulang, namun kenangan akan terkenang disepanjang masa. Terus terang, aku setuju dengan kata-kata itu. Dan itu bisa terjadi pada semua manusia. Bukan hanya kami saja, aku yakin, anda pun memiliki masa kecil yang tak bisa anda lupakan sampai saat ini. Iya, kan?! Nggak…! (nodong.com)
Sebenarnya, rumah kami berdekatan. Maklum, tetangga. Kami sama-sama dibesarkan dalam satu kampung. Bermain, belajar, sekolah, bekerja dan lain sebagainya, kami lakukan bersama-sama. Baik dengan dia, maupun dengan teman-teman lainnya yang sebaya dengan kami waktu itu. Bahkan dulu kami sering mencari buah melinjo bersama-sama. Buah melinjo itu dijual dan uangnya untuk biaya iuran SPP. Maklum, kehidupan anak-anak di kampong waktu dulu, sangat berbeda dengan zaman sekarang. Sekarang sudah gak zamannya lagi anak-anak mencari uang untuk biaya sekolah, tapi anak-anak tinggal belajar dan belajar. Berbeda dengan masa kecilku, yang uang jajan serta iuran sekolah juga kami ikut mencarinya. Makanya, kami harus rajin menabung buat bayar SPP. Sungguh banyak kenangan manis dan lucu diantara kami, serta teman-teman sebaya waktu itu. Namun entah mengapa, aku merasa memiliki rasa yang special dengannya. Hiks,..! (Merona, nich jadinya)
***
Bermula dari sebuah kalimat sebutan ‘Menantu’ yang sering (Mamak) ibu Ade panggil untukku, menjadi sebuah memori tersendiri dalam hidup sampai kini. Bukan hanya teman-teman, tapi nenekku saja sering memanggil besan ke mamak. Padahal mereka tahu, dalam adat istiadat Jawa kuno, tidak ada pernikahan dengan tetangga, apa lagi jika rumah mereka berdekatan. Istilahnya, kelihatan cahaya lampunya, apabila salah satu diantara rumah itu ada yang menyalakan lampu. Ideologinya, jika rumah Ade menyalakan lampu, kami yang rumahnya tepat di belakang rumah Ade, bisa melihat cahayanya itu, tidak boleh berbesan, bahkan sangat dilarang. Entahlah, itu adalah salah satu larangan dari leluhur kami, yang masih dipatuhi oleh masyarakat pulau Jawa. Terumata, daerahku di pesisir pantai selatan.
Dan mereka itu, (Para orang tua), hanya bergurau saja sebenarnya. Namun, bagi anak-anak seusiaku, menangkap ucapan seperti itu, tentunya masuk kedalam hati kecilnya, dan terkesan membahagiakan. Namanya juga anak-anak, pastinya hanya mampu menangkap perkataan sekilas, tanpa memikirkan kalau itu hanya gurauan semata.
“Tu, mantu, sini. Kamu kan mantuku yang cantik, yang manut (Nurut) sini, carikan Mamak uban, yah” panggilnya. Setiap kali beliau memanggilku, pasti dengan sebutan mantu (Menantu). Maka, bermulalah rasa yang aneh itu di hatiku. (Xixixixi….). Padahal waktu itu, usiaku masih kecil, sekitar 12 tahunan. Masih duduk di bangku SD kelas 6. Mamak juga menawari Andi, kakak Ade padaku. Katanya, disuruh milih sendiri, dari kedua anak lelakinya. Weladalah, Mamak…! Lucu, bila kuingat. Hi hi hi…..
Sebutan menantu itu, terus melekat di hati kanak-kanakku. Ada rasa suka dan berbunga-bunga jika beliau memanggilku dengan sebutan itu. Jiah…! Tenan Re !
Hari demi hari tanpa kusadari, perasaan suka sama Ade semakin kuat. Padahal aku sendiri tak tahu hati Ade, apakah dia suka padaku, atau tidak. Yang jelas, kami merasa senang kalau ada peluang bersama-sama. Baik pergi kesekolah atau kemanapun kaki melangkah.
Teringat dahulu, saat aku baru memiliki sepeda Jengki, dialah yang mengajariku naik sepeda, bahkan ke sekolahpun kami berboncengan. Dan aku akan bertambah merona kalau ada teman-teman sebaya kami yang menjodohkan serta menjuluki kami pacaran. “Sani pacare Ade” (Sani pacarnya Ade). Walaupun aku harus berpura-pura mengejar dan memukul temanku itu, namun hatiku sangat senang. (Hi hi hi…..lucu ya, Kawan.) Mungkinkah itu yang dinamakan Cinta Monyet?
Masih jelas tergambar di pelupuk mata, bagaimana kami sering bersama-sama dalam berbagai kegiatan. Seperti mencari buah melinjo dan kayu bakar di kebun, mencari kacang tanah di ladang, mengaji di mushala Pak Kinun, atau belajar tambahan malam hari di rumah Pak Guru kami yang jauh tempatnya. Walau kami dan teman-teman sering naik sepeda bersama-sama, namun karena dialah orang yang paling dekat rumahnya denganku, maka dialah orang yang sering memboncengku. Maka, kawan-kawan yang usil pasti akan gencar dengan keusilannya, yaitu menjuluki, bahwa kami berpacaran. (Masa anak sekecil itu kok pacaran. Hiks…..!) Eitt...! Jangan salah. Perasaan cinta itu tumbuh kapan dan dimana saja, tak kenal tempat dan usia. Betul nggak, Kawan. Dan itulah yang terjadi padaku, waktu itu.
Jika bulan ramadhan tiba, mendadak surau-surau penuh oleh jamaah. Begitu juga anak-anak sekolah SD, mereka pasti mendapatkan tugas dari guru agama masing-masing. Yang intinya, harus mendapatkan tanda tangan dari seorang Imam dalam setiap salat lima waktu. Dan demi mendapatkan tanda tangan Imam tersebut, kami harus salat subuh berjamaah. Harus. Sangat disiplin, bukan?!. Apalagi jika tiba hari minggu. Sesudah kami mendapatkan tanda tangan seorang Imam, semua anak-anak akan pergi ke laut bersama-sama. Kami semua berlari-lari kecil hingga sampai ke laut selatan. Di laut tersebut, kami bermain-main sampai puas, bahkan sampai waktu siang, maklum hari libur. Ada yang berenang, menggambar sesuatu di pasir, mengejar kepiting, mengumpulkan kulit kerang dan dibawa pulang untuk dijadikan ketrampilan khusus, dan banyak lainnya. Pokoknya, kami akan pulang jika waktu duhur tiba.
Satu, kenang-kenangan yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. Yaitu, dimana kami waktu itu sama-sama bernaung di bawah pelepah daun pisang. Maklum, kami tak memiliki payung. Hidup di kampong, memang serba kekurangan. Jangankan payung, yang harganya saja bisa untuk membeli beras puluhan kilo, seragam sekolah kamipun terbatas. Jika musim hujan tiba, sangatlah merepotkan kami yang tidak memiliki payung. Baju basah, dan terpaksa berangkat sekolah tak memakai sepatu, alias nyeker. (tak memakai alas kaki)
Sudah hamper jam 7 pagi waktu itu, namun hujan tak juga reda. Dia yang melihatku duduk di teras, sambil menanti hujan reda, akhirnya menghampiriku. Lalu, memotong pelepah daun pisang yang panjang dan besar, serta menyuruhku bernaung di bawahnya, sambil berjalan beriringan. Saat itulah, kembali dadaku merasakan dag dig dug. Aku sendiri tak tahu perasaan apa itu, yang membuat jantungku berdebaran jika berdekatan dengannya. Sunguh dunia terasa indah, walau harus basah kehujanan. Hua ha ha ha……
........................................................
.........................................................
...........................................................
.............................................................
Akhir cerita (*)
Dan ketika azan subuh berkumandan dari surau, mamaku bertanya pada Ade.
“Udah punya anak berapa kamu, De?” Dia tersenyum malu-malu, sambil menjawab.
“Belum laku, nich Mak” Seketika dadaku berdegup kencang.
“Kok, sama” batinku. Hi hi hi…
INI DULU.....LAIN DULU LAIN SEKARANG. YUK IKUTI KISAH SELANJUTNYA DALAM BUKU CINTA MONYET NEVER FORGET. BELI BUKUNYA.....:)))


Man teman, mau tahu bagaimana serunya CINTA MONYET kami? hiks......SERU LHO. ayo intip ceritanya..... Alhamdulillah, Ramadhan membawa berkah.....
0 komentar:
Poskan Komentar