My Music

Jumat, 09 Maret 2012



MONOLOG
TEMA “PELANGI BMI”
Dengan judul
 “LASTRI MENUNGGU BEBAS”

Lokasi adalah ruang tamu rumah majikan.
Ada sofa, meja, sapu, kertas yang bercecer di lantai.
LASTRI :
Sambil mengelap meja di ruang tamu. 
“Ya, begini nasib jadi pembantu. Wong meja sudah mengkilap saja disuruh ngelapin terus. Sampai saya sendiri bingung, bagaimana cara ngelapnya. Bukan tambah mengkilap, eh malah jadi bures. Bayangin saja,  wong ngelapnya sehari tiga kali. Ealah, ngomong sehari tiga kali, kok kaya pasien makan obat saja, ya. Ini gara-gara majikan saya kena PHK. Sekarang  ndak kerja. Nganggur! Coba kalau majikan saya seorang direktur, atau minimal kondektur, ya pastinya mereka ndak ada waktu mengatur-atur. Mereka sibuk kerja, bahkan sampai lembur. Ini hanya, andai kata, lho!. Hik hik….
Tapi apa mau dikata, ini sudah jadi jalan saya.Ya, musti diterima apa adanya. Kata wong jawa, nrimo ing pandum. Kalau ndak kerja, malah repot. Moso ikutan nganggur. Alamat gak dapat jatah.  He he, maksud saya, ndak dapat gaji. Wong dibayar, juga untuk bekerja. Iya, ndak, Mbak-Mbak?! (bertanya pada penonton)
Masih sambil ngelapin meja, dan sofa.
Ngomong-ngomong soal makan obat tadi, kira-kira, ada ndak, obat untuk saya, ya. Saya lagi jadi pasien, nih. Lha sedang sakit. Tapi sakitnya ndak kelihatan. Soalnya sakitnya di sini (nunjuk dada, pada penonton)
Sakit saya, sakit hati! (kembali nunjuk dada). Lha, bagaimana ndak sakit. Saya jauh-jauh merantau, meninggalkan keluarga, meninggalkan anak-anak, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan tanah air tercinta, eh malah hasilnya gak tahu kemana. Ndak ada jejak,  padahal sudah bertahun-tahun lamanya. Yang ada hanya kuitansi, bukti pengiriman uang. (sambil megang beberapa kertas, yang ditunjukan pada para penonton) muka sedih.
Pernah saya tanya sama orang rumah. Kemana semua uang yang pernah saya kirim selama ini?!. Lalu mereka menjawab, katanya, uangnya  udah habis untuk beli kebutuhan. Saya juga sakit hati sama suami, yang mengaku ada main sama tetangga. Bahkan dengan sengaja dia memarahin saya di depan perempuan itu, yang katanya sanggup memberikan yang suamiku mau! Weladalah..!!
Saya juga orangnya ndak suka neko-neko. Ndak seperti temanku yang katanya, membahagiakan suami, atau pacar, lewat hp. Duh, sia-sia uang, sia sia waktu saja. Maap, lho. Saya ndak lagi nyindir sampeyan. Saya yakin, panjenengan ndak kaya gitu.
Sewaktu saya telpon tetangga sebelah, yang biasanya ikut  ngutang duwit kalau saya ngirim uang, malah dia bilang, katanya, uangku itu sudah abis sama orang rumah, untuk beli kebutuhan  yang gak kelihatan. Saya bingung, kok gak kelihatan bagaimana. Kembali dia menjawab, katanya, kebutuhan yang gak kelihatan ya di kebun. Udah dimakan sama bambung hitam.
Oalah…..(Ngusap dada) Panjenengan faham, to, mbak-mbak? (bertanya sama penonton)
Kerja bertahun-tahun, tapi hanya jadi penanggung kebutuhan doank! Duh Gusti Pengeran Ingkang Manunggal, Engkaulah saksi  abadi…
Belum  hilang sakit hati saya sama orang rumah, datang lagi sakit yang lain. Sainem, teman sedesa saya, teman sepermainan , juga teman seperjuangan saya, katanya sedang menangis. Tangisnya itu, membuat orang di rumahnya menangis. Bukan hanya keluarganya, tapi semua yang mendengar kabarnya. Karena penasaran, saya bertanya sama keluarga. Mengapa Sainem menangis. Dan jawaban mereka membuat saya ikut tersedu-sedu. Katanya, Sainem menangis, karena dia sedang menunggui tali di tiang gantungan.  Duh….! (kembali ngusap dada) Nelongso, atiku nelongso! (nyanyi dangdut ala Evi Tamala….)
Saya kembali bingung. Dalam hati, ndak rela melihat kesengsaraan teman sepermainan saya itu. Saya pengen sekali menolongnya. Tapi ndak tahu bagaimana caranya. Wong saya sendiri juga sedang nguli di rumah majikan kok!. 
Berjam-jam saya memutar otak untuk mencari jalan keluar, supaya bisa nolong Sainem. Namun tetap saja ndak nemu jalan keluar. Akhirnya, saya cerita masalah ini ke Yu Paitun. Tapi dia juga ndak bisa nolong. Kami berdua bingung. Saya panggil teman-teman yang lain, untuk membicarakan hal ini. Siapa tahu ada jalan keluar. Kata orang, kalau memecahkan masalah sendirian, itu gak kaya kalau beramai-ramai. Berjamaah, kata pak yai.
Akhirnya, saya panggil Tukiyem, Rasinem, Paijo, Ponia, dan teman-teman yang lain. Setelah berkumpul, kami rapat. Berbisik dengan penonton. (Pinjam bahasanya, bu direktur, gak apa-apa, ya Mbak. Keren dikit. Gitu)
Waktu itu, rapat diadakan di bawah pohon kemiri, di pinggiran lapang viktori. Maklum, di sanalah tempat yang paling aman untuk rapat. Ngomong masalah aman, sebenarnya, gak aman juga di sana. Kadang si Pak De (Orang-orang imigrasi, dan satpam) itu juga rese. Mereka kadang ngusir-ngusir kami. Baik yang lagi berorganisasi, mapun yang lagi meeting. Tapi ya, mendingan, free, gak bayar tempatnya. Hanya tinggal manggil tukang plastic, sama kacang rebus, sudah cukup deh.
Soalnya kalau mau rapat di Starbuck, atau di Mc Donald, biasanya kami kena gusur.  Katanya, hanya beli secawan kopi, ngerumpinya berhari-hari. Apalagi kalau rapatnya di dekat hotel besar di pinggir jembatan layang itu. Yang ada tulisan di tiap tangganya, ingat ndak. Di sana, kami malah kena usir, eperannya saja sengaja di siram dengan air. Katanya biar aman. Biar gak untuk rapat para semut merah. Duh, nelangsanya. Wong kita mau rapat, kok malah dibilangnya semut merah yang menganggu pemandangan hotel mereka.
Wes, gak popo. Apapun julukan mereka pada kita, tak trimo. Di tampa yo, mbak. Yang penting rapat tetap dijalankan.
Minggu lalu, kata Tukiyem, dia dan gengnya baru rapat soal nasib saudaranya yang ndak digaji full, yang sakit ndak di kasih obat, yang ndak dikasih libur, yang di PHK tapi ndak di kasih haknya, dan macam-macam. Katanya, rapatnya, sukses! Minggu ini, kami rapat, bagaimana agar saudara kami yang satu ini, bebas juga dari tali gantungan. Semoga juga sukses!
Kang Paijo bingung. Wong suara kami hanya sedikit, siapa yang bisa denger? Katanya. Dengan semangat empat lima, Yu Rasinem memastikan suara kami didengar masyarakat luas. Katanya, walau sedikit, suara kita harus kita gembar gemborkan dari sekarang. Boking semua mic, boking semua karaoke (eh salah ucap) maksudnya, boking semua media. Suarakan suara kita sekencang-kencangnya, biar mereka dengar!.
Saya ikutan bingung. Lalu saya tanya, maksudnya, mereka itu siapa Yu?
Lho, ya mereka Dik. Mereka para saudara kita di seluruh dunia. Kita harus memberitahukan mereka, supaya Sainem selamat dik. Dia membutuhkan suara kita.
Kang Paijo nyletuk.
Memangnya, mereka menganggap kita saudara? Tanyanya ragu.
Iya, ya, Kang. Kita ini siapa? Potong Ponia.
Dik, kalian semua dengar ya. Biarpun kita ini kuli, biar kata orang, kita adalah TKW, pembantu, dan lain sebagainya, tapi asli lho, kita ini adalah pahlawan.  (saya, Ponia  dan Kang Paijo, melongo. Terkejut) Pahlawan? Kata saya
Tanpa kita, orang rumah keteteran soal uang kiriman untuk beli kebutuhan. Untuk biaya iuran sekolah anak-anak. Untuk beli pupuk padi. Dan untuk merenovasi gubug. Iya, to?!
Tanpa kita, majikan kita juga kewalahan dengan pekerjaan-kerjaannya. Mereka ndak mungkin membawa anak-anaknya ke kantor, kan. Mereka perlukan kita untuk mengantar anaknya ke sekolah, memasak, dan membersihkan rumah. Apalagi yang memiliki orangtua yang sudah renta. Mereka perlukan tenaga kita untuk merawat orangtuanya. Memandikan, menemani, dan memasakan makanannya.
Tanpa kita, orang-orang yang menghasilkan uang devisa, Negara akan semakin melarat. Udah banyak pengangguran, tak ada pemasukan uang. Makanya, kita di panggil pahlawan devisa, sebab kita yang menghasilkan  uang bagi Negara. Kita membantu perekonomian Negara. Bayangkan saja, berapa jumlah kiriman para TKI di seluruh dunia, setiap harinya. Dan itu salah satu, pemasukan uang untuk Negara. KITA PAHLAWAN! Man teman semua!!
OOO, maksudnya, Negara menjual kita? Tanya Yu Paitun, yang sedari tadi mengernyitkan keningnya.
Ya, semacam itu, Yu! Sampeyan ini semakin pinter saja.
Kalau begitu, apa gak sebaiknya kita minta bantuan sama Negara, untuk membebaskan Sainem.
Ya, harus! Tapi yang sekarang jadi masalah, yang namanya Negara itu siapa? Giliran Yu Ponia yang bingung.  Apa Pak Presiden juga disebut orang Negara?
Ya, bisa Yu. Justru itu. Pak Presidenlah orang yang pertama yang bisa menolong Yu Sainem. Seharusnya dia perintahkan orang-orang  kabinetnya, untuk mengatasi masalah kita, para TKI, Para BMI. Bukan nyuruh orang-orang bikin WC di gedung dengan harga milyaran. Memangnya WCnya mau pakai emas apa berlian? Kalau untuk WC uang gak kelihatan banyak, tapi untuk keperluan anak yatim, atau BMI, sedikit saja kelihatan banyak. Mereka sayang mau ngeluariannya. Huft…..jadi panas, nih dada!
Kabinetnya itu apa dan siapa saja, sih? Lagi-lagi tanya Yu Rasinem. Saya hanya menyimak. Takut salah.
Ya, rika yu. Masa Kabinet gak ngerti. Dulu gak makan pojok sekolahan ya, rikane! Nih dengerin ya, Kabinet itu suatu badan yang terdiri dari pejabat pemerintah senior/level tinggi, biasanya mewakili cabang eksekutif. Kabinet dapat pula disebut sebagai Dewan Menteri, Dewan Eksekutif, atau Komite Eksekutif, penyebutan ini tergantung pada sistem pemerintahannya dan diketuai oleh presiden atau perdana menteri sebagai pimpinan cabinet. Gitu Yu. Faham kan Rika….(sambil mgos-ngosan. Capek njelasin soal  cabinet) Semua mengangguk-angguk.
Untuk mengatasi BMI, pemerintah pastinya sudah menyerahkan tugasnya pada kementrian yang telah ditunjuk. Namun sayang, mereka itu kurang peka dengan keadaan kita ini. Bayangkan saja, mendengar BMI disiksa saja, malah mereka nyalihin kita. Katanya, itu kesalahan kita karena bodoh, dan memalukan Negara dengan jadi pembantu. Apa dia gak punya perasaan ya? Memangnya kita ini mau ninggalin keluarga bertahun-tahun, kalau di Negara sendiri berlimpah pekerjaan untuk kita! Apa kita mau ninggalin anak-anak kita yang masih membutuhkan air susu ibu, kalau di kampung kita, suami bisa menjamin makanaan dan tempat tinggal untuk kita. Nggak kan, wong suami-suami kita malah nganggur.  Dia malahan nyuruh kita kerja. Wong di luar negeri justru yang di butuhkan tenaga kerja perempuan, bukan laki-laki. Iya to?
Namun, apa yang membuat kita nekat merantau jauh, tidak lain dan tidak bukan karena suami kita tak memiliki pekerjaan. Karena kita memikirkan masa depan anak-anak kita. Karena kita perlukan uang untuk biaya hidup. Kita adalah wanita-wanita  yang tak suka menganggur!. Kita juga bukan wanita yang suka membuang-buang waktu dengan percuma! Kita ini, ingin menolong perekonomian keluarga, perekonomian Negara. Menolong orangtua, suami, dan anak-anak! Kita pahlawan dik. Pahlawan….!!! (Ucap  Tukiyem berapi-api.)
KEMBALI LASTRI YANG SEDANG BERADA DI RUANG TAMU.
Hm….kalau saya salah satu dari pahlawan, tapi kenapa nama saya tak ada dalam daftar nama pejuang ya? Yang ada, hanya daftar BMI, dan daftar rakyat miskin. Hik hik…..(tertawa)
Malahan, kami sering dimaki oleh mereka. Dianggap sebelah mata, oleh orang-orang yang katanya duduk di kursi atas. Dibedakan derajatnya. Tak dihargai sama sekali. Ah, sungguh menyedihkan! Terima ndak kita di injak-injak oleh mereka mbak-mbak?? (Bertanya pada para penonton)
DATANG NYONYANYA, MEMBAWA MAJALAH.
Wei, ngapain kamu! Suruh kerja, kok ngobrol melulu! Memangnya di Hong Kong ngobrol itu gratis?  Gak butuh duwit, ya?!  Tegur  si majikan.
Lastri tersenyum, sambil memasukan kembali hp-nya ke saku.
He he, nyonya, sudah bangun ta?  Mau sarapan apa Nya? Nanti saya buatkan. Tanyanya.
Ndak usah! Aku mau makan di luar saja!
LASTRI TERSENYUM SENANG MENDENGAR NYONYANYA MAU KELUAR.
Rapatnya bisa di lanjut, nih. (bisiknya pada penonton)
SETELAH NYONYA KELUAR, KEMBALI LASTRI BERCERITA TENTANG KELANJUTAN RAPATNYA.
Kali ini, Lastri sambil nyapu dan ngepel.
 Tadi ceritanya sampai dimana ya mbak-mbak? (bertanya pada penonton.)
Oh, iya. Ingat  sekarang. Sampai orang yang duduk di atas ya tadi. Nah, setelah kami sepakat, keesokan harinya, yang pas kebetulan hari libur, kami berteriak-teriak di jalan raya, meminta Sainem di bebaskan. Tadinya, hanya lima orang, semakin lama, semakin bertambah. Semakin lantang suara kami, semakin bertambah lagi orang-orang yang ikut bergabung, ikut meneriakan pembebasan Sainem.  Orang bilang kami ini sedang demo. Akhirnya, sampai berhari, semakin bertambah, bahkan tak terhitung jumlah orang yang menyokong pembebasan itu. Saya di dalamnya, jadi merasa terharu, ternyata benar kata Yu Rasinem, Sainem memang membutuhkan suara kita. Suara orang banyak. Hanya dengan suara!
Setelah dimana-mana orang lantang berteriak menginginkan kebebasan Sainem, orang yang duduk di kursi atas, mulai kepanasan. Mereka bingung. Akhirnya,  mungkin mereka takut gedung istana di bakar massa, denger-denger  mereka  pun berangkat untuk membebaskan Sainem. Lega mendengar Sainem bebas dari tali tiang gantungan.  Katanya sekarang dia telah pulang ke kampungnya. Bercocok tanam di rumah. 
Mengingat itu, saya jadi merasa iri sama Sainem. Dia sudah pulang, berarti dia sudah bebas, kan? Sudah merdeka. Sudah bukan TKW lagi. Sudah mandiri, di kampung.
Kalau saya kapan bebasnya, ya? Kapan bebas dari mata majikan. Bebas dari julukan derajat rendah. Bebas dari sebutan TKW. Bebas dari dibeda-bedakan, dan bebas menanggung beban??  (Kapan, ya mbak-mbak??. Bertanya pada penonton, sambil melamun. Menggantungkan asa di langit yang mendung)
ENDING YANG MENGGANTUNG….
TAMAT



Rabu, 07 Maret 2012

Moment Indah bersama Penulis Helvy Tiana Rossa


MOMEN INDAH BERSAMA PENULIS HELVY TIANA ROSSA
Bayu Insani
Bismillahirrahmanirrahiim.
Sebenarnya, sewaktu saya disuruh menulis mendadak di acara “Menulis Serempak bersama Forum Lingkar Pena” dalam rangka ulang tahun forum kepenulisan itu yang ke 15, terus terang saya bingung.  Mau nulis apa? Tempatnya kurang tepat, waktunya sempit, serta  suasananya juga ramai. Maklum, saya masih sangat pemula, sedangkan waktu itu, acaranya sedang diadakan di Telkom Plaza, coseway Bay. Banyak suara  yang membuat saya gak konsentrasi, seperti  suara-suara yang datangnya dari luar room kami.
Ada yang menawarkan makanan, seperti nasi, lauk, sambal, bakso, ataupun juga kong kow-kong kow yang menggelitik dari para tamu Telkom itu sendiri. Akhirnya, waktu yang ditentukan habis. Maklum, acara kepelulisan ini di gelar hanya kira-kira untuk 15 atau setengah jam. Dari teng, jam 11 waktu Indonesia, sampai jam 11.30.
Sedangkan saya, ingin menulis panjang, dan bercerita tentang momen Indah bersama pembicaranya, yaitu Bunda Helvy Tiana Rossa, selalu pendiri Forum Lingkar Pena.
Sewaktu saya datang bersama teman saya, Yulia duryat, saya agak sedikit telat. Alasannya: Karena setiap hari minggu, saya memang diwajibkan untuk mendandadi anak boss pergi ke gereja. Dan itu tak boleh di ganggu gugat. He he. Makanya, sedikiit telat.  Moga teman-teman memaklumi, alasan saya.
Setelah duduk, saya melihat Bunda Helvy sedang menjawab pertanyaan salah satu peserta, yang menanyakan teantang mood dalam dunia kepenulisan. Jawaban beliau pun sama dengan yang sering dialami penulis pemula. Adakalanya, mood untuk menulis  itu turun. Kata BundaHelvy, “Jangankan menulis. Iman kita saja kadang naik turun!” Segala sesuatunya, itu ada saat-saatnya. Namun begitu, beliau juga memberi  tips, atau saran, untuk kami-kami yang sedang merasa jenuh dengan menulis. Caranya:
1.       Kita bisa berjalan menjauhi tulisan kita, lalu menatap hal-hal lain
2.       Kita berhenti menulis untuk sebentar, dan melakukan aktifitas lain
3.       Kita bisa bertemu dengan teman-teman. Karena dengan bertemu dengan orang lain, ada kemungkinan, kita mendapatkan semangat baru atau solusi untuk kita.
4.       Kita alihkan rasa jemu menulis itu, dengan membaca.
5.       Dan, bisa juga kita berekreasi,  hiking, atau mengunjungi tempat-tempat yang bagus untuk di kunjungi.
Sebenarnya, masih banyak lagi solusi untuk mengatasi kejenuhan dalam menulis. Semua tergantung dari individu masing-masing. Jika bisa, jangan dipaksa. Karena jika telah jenuh  menulis, lalu kita paksa, itu akan kurang bagus hasilnya. He he, ini pengalaman saya. Yang nulisnya selalu dipaksa. Habisnya, selalu gak ada waktu, dan banyak alasan untuk tidak menulis. (jangan ditiru.com)

Saat pertanyaan-pertanyaan dilontarkan peserta, Bunda Helvy sangat antusias menjawabnya. Dan yang saya rasa unik, adalah pertanyaan yang mepertanyakan mengapa beliau menulis. Dengan senyum tegas, beliau menjawab “Sebab menulis itu adalah kebutuhan bagi saya”  Beliau percaya, kebiasaan itu akan menumbuhkan kecintaan. Juga sebaliknya. Kecintaan itu akan mewujudkan kebiasaan.

Beliau juga bercerita, bahwa beliau menulis itu sejak kecil, sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Pernah mengamen puisi di bus-bus dan pernah menjadi pimpinan redaksi di salah satu majalah remaja, yaitu majalah Annida. Beliau menulis karena sering melihat ibunya menulis. Kami semua terharu.

Kehadiran Bunda Helvy ke Hong Kong, adalah dalam rangka merampungkan projek menulis disertasinya. Saat ditanya, mengapa beliau memilih TKW HK? Beliau menjawab, karena beliau ingin mengangkat derajat TKW, Ingin agar TKW menjadi model  positif dunia, dan ingin memperkenalkan pada dunia bahwa TKW pun bisa sukses. Tetapi saya sedikit lupa dengan jawaban yang lain, sebab tulisan dalam kertas saya, malah tak bisa dibaca. Maklum, hanya diambil inti-intinya saja. Mohon maaf.

Beliau bahkan mendapatkan julukan team kompor oleh teman-teman. Sebab apa? Beliau selalu memberikan semangat dan motivasi pada orang lain.  Ya, beliau bilang, beliau tak memiliki apa-apa, hanya semangat dan semangat terus menulis, dan untuk dibagikan pada teman-teman semua.

FLP  telah beliau dirikan sejak tahun 1997, hingga kini, di tahun 2012, FLP telah tersebar lebih dari 150 kota. Wow! Perkembangan yang pesat bukan?  Itu di Indonesia. Belum di Luar negeri. Hampir di seluruh dunia ada forum ini. Saya pribadi sangat salut pada semangat beliau.  Katanya lagi, FLP adalah hasil kegelisahannya, karena ingin mengajak semua orang untuk bisa menulis. Bagi beliau pula, menulis itu tak harus berpendidikan tinggi. Cukup dengan semangat, dan keistiqomahan. Untuk apa bergelar sarjana, kalau tetap tak memiliki tulisan. Lebih baik seperti kami-kami, walaupun bekerja di sector rumah tangga, namun kami memiliki semangat luar biasa untuk menulis, untuk memberontak pada nasib yang harus di perjuangkan. Kami benar-benar termotivasi dengan ledakan semangatnya.

Setelah jam 12, rombongan berfoto-foto dan berganti room. Kami berjalan ke ART centre. Di sanalah worshop kepenulisan dan drama sebenarnya  di lakukan. Terbuka umum, hingga jam 5 sore.  Banyak yang hadir, dan merasa puas dengan penambilan beliau yang memukau. Penampilan beliau saat memberikan workshop dan membacakan puisi secara live, serta mengajarkan drama.

Jam 5 kami semua keluar ruangan dengan perasaan senang. Peserta keluar dan masing-masing pergi membawa kesan yang tak terlupakan. Dan kami, FLP selaku panitia, berkesempatan untuk makan malam bersama. He he. Jangan ngiri…! Saya, Bunda Helvy, Mbak Andina dan Mbak Ita, naik taxi bersama beliau menuju Wanchai. Tujuannya satu. Untuk mencari restoran halal. Tempatnya, di atas masjid Ammar, lantai 5.

Kebetulan sekali, setibanya kami di sana, ada serombongan  pariwisata yang mampir ke Hong kong. Sangat banyak pesertanya. Mereka rombongan dari Kalimantan. Terpaksa, kami mengalah. Kami tak kebagian meja. Dan sambil menanti mereka selesai makan, bunda Helvy memperlihatkan pada kami, catatan disertasinya.

Akhirnya, rombongan mulai bangun dari makannya, lalu satu persatu pergi. Kami senang, karena akan makan malam. Ndilalah, pas kita sedang berbincang, ada satu lelaki yang dari rombongan pariwisata atau omroh tersebut menghampiri rombongan meja kami. Cuittt cuittt….! tahu gak, kami disapa oleh beliau.  Akhirnya berkenalan. Beliau ada memberikan kartu nama. Hm…..dalam kartu namanya, tercatata “direktur utama”. Bla..bla….! (Sttt…..!)

Hidangan datang. Kami makan bersama. Sambil makan malam kami ngobrol santai dengan Bunda Helvy dan teman-teman. Ada saya, bayu Insani, Mbak Ita, Andina Respati,Mbak Rihanu Alifa, Mbak Susi Utomo, Mbak Giza, Mbak Esakura, Mbak Hab Nisa dan mbak Helvy. Nah ramaikan? Teman-teman panitia yang lain, telah pulang.

Acara makan malam dan foto-foto pun selesai. Kembali kami mengadang taxi. Kali ini, acaranya, adalah syuting dan wawancara bunda pada Saya, Mbak Ita, Mbak Andina, dan mbak Susi untuk dijadikan bahan disertasinya. He he. Asyik lho di syuting sama penulis senior, Tokoh masyarakat dan sekaligus orang public. Ntr kita ikutan terkenal. Hik hik J (lebay.com)

Saya merasa bangga, bahkan senang bisa merasakan dan dekat dengan beliau. Sifatnya yang penyayang, ramah, hangat, mudah berbagi, memotivasi, membuat saya tenang duduk, dan memeluknya. Sungguh, saya terharu dengan sifatnya yang tawadhu namun  smart. Ah, bagaimana  ya, cara melukiskannya. Lembar ini terlalu sempit untuk menceritakan kebaikan, kelembutan, kehangatan, serta kepribadian beliau.

Doa saya, semoga beliau selalu dalam lindunganNya, selalu sehat wal’afiat, selalu memotivasi orang-orang untuk menulis, dan sukses selalu. Dan saya mohon maaf, apabila catatan ini masih banyak kekurangannya. Sebab, saya adalah manusia biasa, yang banyak kekurangannya.

Jam 9 malam, selesai acara. Saya dan Mbak Ita, keluar dari tempat penginapan beliau, dan harus pulang ke rumah majikan. Sambil naik bis, saya memejamkan mata. Menyimpan segala semangat motivasinya tadi. Agar jika saya sedang dawn atau merasa di rendahkan oleh pihak-pihak yang kurang suka dengan kesuksesan kami, saya mampu melawannya. Ya, SEMANGAT….!!!

Terima kasih pada sponsor, Bank Mandir, Telin sim card, (telkomsel, aku cinta produk Indonesi he he, pada teman-teman FLP Tercinta, pada bunda Helvy tiana Rossa atas pompaan semangat serta moment indahnya. Dan terakhir, pad allah Azza Wajalla, yang telah memberikan kesehatan sehingga saya bisa menikmati indahnya dunia, dan mengikuti workshop tersebut. (*)

Kennedy Town 26/02/2012. 01.20 dinihari.

Rabu, 22 Februari 2012

CINTA MONYET NEVER FORGET


 Desember 2007, mungkin masa yang tidak akan terlupakan dalam sejarah hidupku. Tiada kuduga sama sekali, jika kepulanganku ke tanah air tercinta, akan dijemput  oleh seseorang yang pernah pertama kali mengisi hatiku. Waktu itu, aku benar-benar kaget, bahkan sampai bengong sesaat mengingat sosoknya. Maklum, hampir sepuluh tahun lamanya kami tak berjumpa.

            “Lho, Akhi…?”ucapku, grogi, bahkan gak percaya sama sekali.
            “Iya, ini Ade, tetangga kita. Masa kamu lupa.”jawab mamaku. Pemuda itu hanya tersenyum.
             “Sudah jadi orang Hong Kong nih, ceritanya, Sampai lupa sama teman sendiri.” Ucapnya. Seketika aku merona. Segera kutelungkupkan kedua tanganku ke depan dada, sambil tersenyum padanya. Dia juga melakukan hal yang sama. Pada mama dan adik-adik, kupeluk tubuh mereka satu persatu. Alhamdulillah kerinduan akhirnya, termuara jua. Pujiku, berucap syukur pada-Nya.

             “Kok, dia tahu kalau aku mau pulang? Bagaimana ceritanya, Mam.” bisikku
             “Iya, seminggu yang lalu kami bertemu di komplek. Mama juga nggak hafal dia. Tapi dia bilang, ngliat mama itu sama seperti ngliat wajahmu, jadi dia beranikan diri untuk menyapa Mama. Iya, kanDe?” Tanya mama padanya. Ade tersenyum mengiyakan. Maklum, mama berpindah ke Jakarta sewaktu kami masih kecil, mungkin hampir dua puluh tahun mereka berdua tak bertemu. Akhirnya, obrolan diteruskan di dalam mobil travel

            Jarak antara Bandara Sukarno Hatta--Rawamangun, Jakarta Timur, tak seberapa lama. Sehingga kami merasa, belum puas menikmati obrolan nostalgia. Mama menyuruh Ade, untuk menginap di rumah kami. Akhirnya, diapun setuju.
                                                                       ***
           Aneh. Malam itu, aku sama sekali tak bisa tidur. Walaupun dari kemarin aku nggak tidur karena sibuk menyiapkan keperluan ini itu serta barang-barang yang akan di bawa pulang sewaktu di Hong Kong, namun entahlah, sesampainya di rumahpun, tetap tak bisa tertidur.

            Mama menemaniku duduk di ruang tamu. Mendengar obrolan, Adepun akhirnya  keluar kamar. Dia juga bilang tak bisa tidur, mungkin masih kaget melihatku, teman masa kecilnya, atau karena bukan rumah sendiri. Kembali kami ngobrol, tepatnya bernostalgia masa kecil. Mama membuat kopi buat kami bertiga, katanya, biar nggak ngantuk. Mau bergadang sampai pagi. Sementara, adik-adiku yang lain, kembali melanjutkan  tidurnya.

           Mama banyak bertanya kepada Ade, kemana selama dua puluh tahun belakangan ini. Diapun bercerita dengan sopannya dari A sampai Z. Hingga sampailah pada obrolan masa kecil kami sewaktu di kampung.

            Dalam senyum dan tawa kami, dadaku berdegup kencang setiap kali mata kami beradu. Hiks,…..lucu, yah. Padahal, kami tidak sedang berpacaran, lho saat itu. Tapi entahlah, sepertinya, bayangan masa lalu kembali menyapa nuraniku saat menatap matanya.
                                                                  ***
           Dulu. Duluuuuu sekali, (Hi hi hi….) saat kami masih kanak-kanak. Banyak kenangan manis yang tak bisa kami lupakan sampai saat ini. Orang bilang, masa kecil memang masa-masa yang indah, masa yang takkan pernah terulang, namun kenangan akan terkenang disepanjang masa. Terus terang, aku setuju dengan kata-kata itu. Dan itu  bisa terjadi pada semua manusia. Bukan hanya kami saja, aku yakin, anda pun memiliki masa kecil yang tak bisa anda lupakan sampai saat ini. Iya, kan?! Nggak…! (nodong.com)

           Sebenarnya, rumah kami berdekatan. Maklum, tetangga. Kami sama-sama dibesarkan dalam satu kampung.  Bermain, belajar, sekolah, bekerja dan lain sebagainya, kami lakukan bersama-sama. Baik dengan dia, maupun dengan teman-teman lainnya yang sebaya dengan kami waktu itu.  Bahkan dulu kami sering mencari buah melinjo bersama-sama. Buah melinjo itu dijual dan uangnya untuk biaya iuran SPP. Maklum, kehidupan anak-anak di kampong waktu dulu, sangat berbeda dengan zaman sekarang. Sekarang sudah gak zamannya lagi anak-anak mencari uang untuk biaya sekolah, tapi anak-anak tinggal belajar dan belajar. Berbeda dengan masa kecilku, yang uang jajan serta iuran sekolah juga kami ikut mencarinya. Makanya, kami harus rajin menabung buat bayar SPP. Sungguh banyak kenangan manis dan lucu diantara kami, serta teman-teman sebaya waktu itu. Namun entah mengapa, aku merasa memiliki rasa yang special dengannya. Hiks,..! (Merona, nich jadinya)

                                                                    ***
           Bermula dari sebuah kalimat sebutan ‘Menantu’ yang sering (Mamak) ibu Ade panggil untukku, menjadi sebuah memori tersendiri dalam hidup sampai kini. Bukan hanya teman-teman, tapi nenekku saja sering memanggil besan ke mamak. Padahal mereka tahu, dalam adat istiadat Jawa kuno, tidak ada pernikahan dengan tetangga, apa lagi jika rumah mereka berdekatan. Istilahnya, kelihatan cahaya lampunya, apabila salah satu diantara rumah itu ada yang menyalakan lampu. Ideologinya, jika rumah Ade menyalakan lampu, kami yang rumahnya tepat di belakang rumah Ade, bisa melihat cahayanya itu, tidak boleh berbesan, bahkan sangat  dilarang. Entahlah, itu adalah salah satu larangan dari leluhur kami, yang masih dipatuhi oleh masyarakat  pulau Jawa. Terumata, daerahku di pesisir pantai selatan.

          Dan mereka itu, (Para orang tua), hanya bergurau saja sebenarnya. Namun, bagi anak-anak seusiaku, menangkap ucapan seperti itu, tentunya masuk kedalam hati kecilnya, dan terkesan membahagiakan. Namanya juga anak-anak, pastinya hanya mampu menangkap perkataan sekilas, tanpa memikirkan kalau itu hanya gurauan semata.  

         “Tu, mantu, sini. Kamu kan mantuku yang cantik, yang manut (Nurut) sini, carikan Mamak uban, yah” panggilnya. Setiap kali beliau memanggilku, pasti dengan sebutan mantu (Menantu). Maka, bermulalah rasa yang aneh itu di hatiku.  (Xixixixi….). Padahal waktu itu, usiaku masih kecil, sekitar 12 tahunan. Masih duduk di bangku SD kelas 6. Mamak juga menawari Andi, kakak Ade padaku. Katanya, disuruh milih sendiri,  dari kedua anak lelakinya. Weladalah, Mamak…! Lucu, bila kuingat. Hi hi hi…..

           Sebutan menantu itu, terus melekat di hati kanak-kanakku. Ada rasa suka dan berbunga-bunga jika beliau memanggilku dengan sebutan itu. Jiah…! Tenan Re !
Hari demi hari tanpa kusadari, perasaan suka sama Ade semakin kuat. Padahal aku sendiri tak tahu hati Ade, apakah dia suka padaku, atau tidak. Yang jelas, kami merasa senang kalau ada peluang bersama-sama. Baik pergi kesekolah atau kemanapun kaki melangkah.

            Teringat dahulu, saat aku baru memiliki sepeda Jengki, dialah yang mengajariku naik sepeda, bahkan ke sekolahpun kami berboncengan. Dan aku akan bertambah merona kalau ada teman-teman sebaya kami yang menjodohkan serta menjuluki kami pacaran. “Sani pacare Ade” (Sani pacarnya Ade). Walaupun aku harus berpura-pura mengejar dan memukul temanku itu, namun hatiku sangat senang. (Hi hi hi…..lucu ya, Kawan.) Mungkinkah itu yang dinamakan Cinta Monyet?

            Masih jelas tergambar di pelupuk mata, bagaimana kami sering bersama-sama  dalam berbagai kegiatan. Seperti mencari buah melinjo dan kayu bakar di kebun, mencari kacang tanah di ladang, mengaji di mushala Pak Kinun, atau belajar tambahan malam hari di rumah Pak Guru kami yang jauh tempatnya. Walau kami dan teman-teman sering naik sepeda bersama-sama, namun karena dialah orang yang paling dekat rumahnya denganku, maka dialah orang yang sering memboncengku. Maka, kawan-kawan yang usil pasti akan gencar dengan keusilannya, yaitu menjuluki, bahwa kami berpacaran. (Masa anak sekecil itu kok pacaran. Hiks…..!) Eitt...! Jangan salah. Perasaan cinta itu tumbuh kapan dan dimana saja, tak kenal tempat dan usia. Betul nggak, Kawan. Dan itulah yang terjadi padaku, waktu itu.

           Jika bulan ramadhan tiba, mendadak surau-surau penuh oleh jamaah. Begitu juga anak-anak sekolah SD, mereka pasti mendapatkan tugas dari guru agama masing-masing. Yang intinya, harus mendapatkan tanda tangan dari seorang Imam dalam setiap salat lima waktu. Dan demi mendapatkan tanda tangan Imam tersebut, kami harus salat subuh berjamaah. Harus. Sangat disiplin, bukan?!. Apalagi jika tiba hari minggu. Sesudah kami mendapatkan tanda tangan seorang Imam, semua anak-anak akan pergi ke laut bersama-sama. Kami semua berlari-lari kecil hingga sampai ke laut selatan. Di laut tersebut, kami bermain-main sampai puas, bahkan sampai waktu siang, maklum hari libur. Ada yang berenang, menggambar sesuatu di pasir, mengejar kepiting, mengumpulkan kulit kerang dan dibawa pulang untuk dijadikan ketrampilan khusus, dan banyak lainnya. Pokoknya, kami akan pulang jika waktu duhur tiba.

           Satu, kenang-kenangan yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. Yaitu, dimana kami waktu itu sama-sama bernaung di bawah pelepah daun pisang. Maklum, kami tak memiliki payung. Hidup di kampong, memang serba kekurangan. Jangankan payung, yang harganya saja bisa untuk membeli beras puluhan kilo, seragam sekolah kamipun terbatas. Jika musim hujan tiba, sangatlah merepotkan kami yang tidak memiliki payung. Baju basah, dan terpaksa berangkat sekolah tak memakai sepatu, alias nyeker. (tak memakai alas kaki)  

           Sudah hamper jam 7 pagi waktu itu, namun hujan tak juga reda. Dia yang melihatku duduk di teras, sambil menanti hujan reda, akhirnya menghampiriku. Lalu, memotong pelepah daun  pisang yang panjang dan besar, serta menyuruhku bernaung di bawahnya, sambil berjalan beriringan. Saat itulah, kembali dadaku merasakan dag dig dug. Aku sendiri tak tahu perasaan apa itu, yang membuat jantungku berdebaran jika berdekatan dengannya. Sunguh dunia terasa indah, walau harus basah kehujanan. Hua ha ha ha……

........................................................
.........................................................
...........................................................
.............................................................

Akhir cerita (*)
Dan ketika azan subuh berkumandan dari surau, mamaku bertanya pada Ade.
“Udah punya anak berapa kamu, De?”  Dia tersenyum malu-malu, sambil menjawab.
“Belum laku, nich Mak”  Seketika dadaku berdegup kencang.
“Kok, sama” batinku. Hi hi hi…

INI DULU.....LAIN DULU LAIN SEKARANG. YUK IKUTI KISAH SELANJUTNYA DALAM BUKU CINTA MONYET NEVER FORGET. BELI BUKUNYA.....:)))


Man teman, mau tahu bagaimana serunya CINTA MONYET kami? hiks......SERU LHO. ayo intip ceritanya..... Alhamdulillah, Ramadhan membawa berkah.....

Senin, 20 Februari 2012

(KISAH MUALAF) JATUH CINTA PADA ISLAM SEJAK DI PERANTAUAN


JATUH CINTA PADA ISLAM SEJAK DI PERANTAUAN


KETURUNAN
            Aku terlahir dalam keluarga yang memiliki perbedaan agama. Ayahku memiliki garis berketurunan Tionghoa, sedangkan ibuku, wanita berketurunan Jawa tulen. Perbedaan suku dan agama, tak lagi menghalangi cinta di antara mereka. Buktinya, kematianlahlah yang memisahkan rumah tangga orangtuaku selama berpuluh-puluh tahun.
            Dari hasil pernikahan, mereka dikaruniakan 7 orang anak. Ditambah 1 anak, hasil pernikahan ayah sebelum menikah dengan ibuku. Jadi, keseluruhan anak ayah ada 8 orang, termasuk aku, anak (ragil) yang berjenis kelamin wanita.
            Walaupun ayah dan ibu berbeda agama, namun mereka tak pernah mempermasalahkannya. Ibu diberikan kebebasan untuk tetap menganut agama Islam, sedangkan ayah, tetap pada ajaran agamanya. Mereka saling menghargai kepercayaan masing-masing, sehingga rumah tangganya tak selalu berselisih.
            Setelah anak-anak terlahir, ayah dan ibu memberikan dua nama untuk kami, yaitu nama Thionghoa dan nama Indonesia. Namun pada kelahiranku, ayah tak memberikan nama China. Beliau hanya memberikan nama Indonesia saja. Entahlah, aku sendiri pun tak tahu mengapa. Mungkin karena anak ragil, sehingga tak perlu memakai nama Tionghoa.
            Hingga abang-abangku besar, mereka diberikan kebebasan untuk menganut agama. Dan kesemua abang-kakakku, memilih agama ibuku, yaitu Islam sebagai agama yang dianutnya sejak kecil. Namun beda pula dengan kakak pertama, (Anak dengan istri pertama) dia justru mengikuti jejak ibu kandungnya. Yaitu nasrani.
           Walaupun ibu dan abang telah memeluk Islam, namun aku tidak. Aku tak peduli dengan agama, (Mungkin karena masih kecil) jadi belum terpikir, agama apa yang harus aku pilih. Yang namanya anak-anak, mikirnya hanya bermain dan bermain. Lagipula, keluargaku tak begitu fanatik dengan agama. Makanya, jika di sekolah sedang ada pelajaran agama Islam, aku akan keluar kelas. Dengan begitu, aku tak pernah mengenal Islam lebih detil. Apalagi saat kecil, aku dekat dengan kakak pertamaku, yang bukan penganut agama Islam. Bahkan ketika duduk di bangku SD, aku telah diikrarkan untuk masuk ke agama nasrani.
            Walaupun kami berketurunan Tionghoa, namun ekonomi keluarga kami biasa-biasa saja. Lingkungan kami beragam, ada orang Jawa, China, Sunda, dan  orang batak, dan penganut agama Islam. Mungkin karena itu, ibu dan abang-abangku tak pernah memaksaku untuk memeluk agama yang dianutnya. Katanya, demi kenyamanan hati. Mungkin ibu faham, agama tak bisa dipaksakan. Maka setiap hari Minggu, aku akan diajak oleh kakak pertamaku untuk sembahyang. Ibu di rumah juga shalat. Sedangkan ayahku, akan membakar dupa setiap harinya. Ya, walau kami memiliki keberagaman agama, namun kami hidup dalam keadaan aman-aman saja. Kami tak pernah mempermasalahkannya.
          Namun begitu, aku pun tak pernah khusuk memeluk agama itu. Bebas. Kadang datang ke tempat sembahyang itu hanya untuk main-main dengan teman-teman saja. Jika sedang bermain dengan teman yang beragama muslim pun sama, aku keluar masuk masjid, (maklum, rumah dekat masjid, tapi juga bukan untuk mengaji. Ya, sekedar main-main. Hingga aku remaja, dan sekolah di SMEA.
            Teman-teman di sekolah juga saling menghargai. Walaupun aku berteman dengan orang-orang muslim, baik di sekolahan, maupun dilingkungan kota kecil kami, mereka tetap menghargai agama yang aku anut. Mungkin karena mereka faham, keluargaku berketurunan Tiongha. Tak seorangpun mengucilkan kepercayaan kami. Semua orang di sekelilingku baik-baik. (Maklum, aku hidup di antara orang-orang Jawa asli) Mungkin karena semua agama mengajarkan untuk saling mengormati manusia lain. Pikirku. Berbeda dengan berita-berita yang sering aku lihat atau baca di Koran-koran, mereka sering merasa didiskriminasikan karena perbedaan kepercayaan. Ya, nasib aku beruntung, karena hidup di  lingkungan yang indah damai.
AWAL MULA TERTARIK PADA ISLAM
            Lulus sekolah SMEA, keluargaku tak mampu lagi membiayai pendidikanku lagi. Akhirnya aku berpamitan pada orangtua untuk merantau ke luar negeri. Aku berproses ke Negeri Singapura. Kembali aku dihadapkan dengan perkumpulan orang-orang muslim di penampungan (PT). Ya, hidup di penampungan, banyak warna-warni ke hidupan yang sudah aku saksikan dan kupelajari. Sering aku melihat teman-teman di penampungan shalat malam. Namun begitu, aku belum memiliki rasa apa-apa pada agama ini.
           Akhirnya, aku terbang juga ke Negara tujuan, Singapura. Boss kami mengerjakan 3 pekerja di rumahnya. 2 dari Indonesia, dan 1 dari Negara Pakistan. Temanku yang sesame Indonesia berasal dari Lampung. Ia muslimah yang lumayan taat. Terlihat dia sering shalat. Baik shalat siang, maupun shalat malam. Dia juga menghindari masakan yang berbaur babi. Dari sini, aku merasa heran. Mengapa dalam agama islam, babi tidak boleh disentuh, apalagi dimakan? Ada apa sebenarnya. Aku benar-benar penasaran dengan hal yang satu ini.
             4 tahun lamanya aku berada di Negara tersebut bersama temanku itu. Dan kami tak pernah bermasalah. Sering kami ngobrol, atau diskusi masalah agama masing-masing. Aku bertanya soal babi, mengapa dilarang disentuh, bahkan dinajiskan. Bertanya soal shalat, apa yang diucapkan dalam shalat. Soal puasa sebulan sewaktu bulan ramadhan, dan lain-lain. Terus terang, walau keluargaku orang islam, namun aku tak pernah peduli dengan kegiatan keagamaan mereka. Aku tak peduli dengan shalat atau puasa mereka. Aku lebih dekat dengan kakak pertamaku, daripada dengan abang-abangku. Apalagi setelah mereka berkeluarga, tak ada yang tinggal bersama ibu. Semua misah. Dan aku rasa, apa yang diajarkan oleh agama ini, jauh berbeda dengan agama yang aku anut sebelumnya. Tapi bukan aku memburukkan agamaku sebelumnya, mungkin juga karena aku tak pernah konsisten pada agama. Istilahnya, agamaku itu, hanya sebatas embel-embel di KTP saja.
            Dengan sabar pula, sahabatku ini menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang Islam. Pada suatu malam, di tahun ke tiga, aku merasakan kegelisahan yang membuatku bingung. Berawal dari suara Takbir di Hari Raya Idul Fitri di tahun 2002, aku merasakan keanehan tersendiri. Aku merasakan ada getaran lembut yang menyentuh hatiku kala suara takbir berkumandang di gendang telinga. Padahal takbir tersebut hanya mengalun dari salah satu stasiun Radio di Malaysia. Namun entah mengapa, aku seolah merasakan kemeriahannya. Apalagi saat takbir tersebut, mengalun terus menerus, lama kelamaan bulu kudukku merinding mendengarnya. Subbhanallah….! Sungguh, inilah untuk pertama kali, lafaz ‘Allahu Akbar’menyentuh jiwaku.
            Temanku menangis karena mendengar takbir dan faham arti dari lafaz itu. Ia juga rindu pada keluarga, karena pada hari itu, adalah hari special bagi agamanya. Namun berbeda denganku, yang justru merinding karena seolah ikut merasakan kedahsyatan kalimat tersebut. Aku sendiri heran, mengapa jiwaku merasa terpanggil, untuk mencari tahu tentang agama ini, agama yang membuat bulu kudukku merinding jika mendengar takbirnya. Akhirnya, perlahan aku mulai tertarik dengan Islam.

MENGUCAPKAN KALIMAT SYAHADAT.
            Bermula dari sanalah, ketertarikkanku dalam Islam mulai menggebu. Aku semakin gencar bertanya ini dan itu pada teman serumahku. Dan dengan pengetahuannya, ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dengan senangnya. Namun sayang, kontrak kerja memisahkan kami berdua. Setelah finish kontrak, aku pulang ke Tanah Air. Aku pernah berkata padanya, Insya Allah, aku akan memeluk Islam kelak jika aku telah di rumah. Mulai saat itu pula, perlahan aku menghindari makanan yang diharamkan islam. Khususnya babi. Dan belajar membaca buku-buku islami.
            Sesampainya di tanah kelahiran, aku disambut hangat oleh keluarga. Tak satupun yang tahu tentang perubahanku. Setelah 3 bulan di rumah, mulai kutata hati untuk mengutarakan keinginanku, untuk memeluk islam pada keluarga. Subbhanallah, ayah dan ibu, beserta abang-abangku menyetujuinya. Mereka menyambut keinginanku dengan senang hati. Terlebih ibuku, beliau sangat bersyukur, dan gembira mendengar kabar ini. Ayah menasehatiku, jika benar-benar ingin memeluk Islam, harus konsisten. Jangan seperti dahulu, sewaktu masih kecil. Aku mengiyakan nasehat ayah. Bahkan sangat berterima kasih pada beliau, atas dukungannya.
           Memang, tadinya ada perasaan takut sebelum aku mengutarakan keinginan itu pada ayah. Sebagai anak ragil, aku lumayan disayang oleh beliau. Sekolahku hingga SMEA, dan abang-abangku tak semua mendapatkan hak sepertiku. Mungkin ayah berharap, salah satu anaknya harus mengikuti jejaknya. Namun kenyataan berkata lain. Aku justru mengikuti jejak abang-abangku, menganut agama ibuku.
           Walau begitu, beliau tak berkecil hati. Beliau faham, soal agama memang tak bisa dipaksakan. Yang terpenting bagi ayah, adalah saling menghormati. Sebab semua agama mengajarkan ummatnya untuk saling menghormati orang lain. Begitu juga dengan kakak pertamaku. Beliau tak memarahiku. Walau aku yakin, mungkin ada rasa kecewa dalam hatinya, namun begitu beliau tetap mengembalikan segala keputusan di tanganku.
           Berbekal sedikit ilmu tentang Islam selama di Singapura, dan tekad yang kuat, akhirnya aku meminta pada Ustadz di masjid di daerah kami, untuk mengikrarkanku menjadi seorang muslim. Subbhanallah, akhirnya, setelah melalui pemikiran yang lumayan panjang dan rumit, di akhir tahun 2003 aku mengucapkan kalimat dua syahadat dengan lancar di dalam masjid, yang dulu sering untuk bermain-main semasa kecil.
              Tak terasa, airmata bercucuran deras dari pipiku, begitu juga orang-orang di sekelilingku. Terutama ibuku. Wanita yang melahirkanku, yang mulai renta itu, menangis bahagia melihat putrinya mendapatkan hidayah.
              Sungguh ada perasaan tenang tersendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Entahlah, aku tak mampu membayangkan perasaan itu. Tenang, yang menenangkan jiwaku. Juga masih tak percaya, antara senang, dan bangga, karena akhirnya kutemukan juga pencarianku selama ini. Mereka yang menyaksikanku mengucapkan kalimat dua syahadat itu terharu dan mengucapkan selamat atas pilihan hidupku. Mereka menyalamiku, sambil memeluk erat tubuhku. Airmata kami tumpah di sana. Ya, didalam Masjid, meleleh bersama Pak Imam dan para saksi. Terutama saksi yang abadi, Allah, Tuhan yang Esa.
BELAJAR MENGENAL ISLAM SECARA OTODIDAK
            Mulai saat itu, resmi sudah aku menjadi seorang mualaf. Saudara baru bagi kaum muslim. Entahlah, jiwaku merasakan ketenangan tersendiri setelah memeluk agama baru ini. Apalagi jika telinga mendengarkan suara adzan. Dadaku seolah bergelombang-gelombang halus. Ayah juga akan mengingatkan aku untuk shalat jika seruan adzan terdengar.
            Walaupun aku belum mengerti sepenuhnya tentang shalat, namun cukup aku mengikuti gerakkan imam. Dulu sewaktu di Singapura, temanku mengajarkan bagaimana cara berwudhu dan shalat padaku. Jadi, walaupun belum faham benar, aku shalat hanya dengan gerakan-gerakan fisik saja.  Terus terang, aku lebih suka belajar sendiri. Aku tak mau merepotkan oranglain, terutama pada ibu, beliau terlalu tua untuk mengajariku.  Sedangkan abang-abangku tak tinggal bersama kami.
           Setelah 4 bulan di kampong  halaman, aku kembali ke penampungan. Kali ini ingin mencoba nasib ke Negara Beton, Hong Kong. Selama lima bulan lebih, aku hidup di penampungan. Dua bulan pertama, aku sudah mulai belajar bacaan-bacaan shalat dari teman-teman yang sama-sama hidup di penampungan. Bahkan saking bahagia dan semangatnya, aku hafal ayat kursi. Aku tak malu bertanya ini dan itu, dan minta di ajarkan doa-doa lainnya. Alhamdulillah, teman-teman se PTku lumayan baik-baik. Hingga aku bisa menyesuaikan diri dengan mereka.
            Teringat bagaimana dulu ketika shalat berjamaah di PT. Wudhunya itu harus antri, sambil menunggu giliran, kuamati gerakan-gerakkan wudhu teman-teman. Dari mengucapkan basmallah, mencuci kedua telapan tangan, berkumur, membersihkan hidung, membasuh muka, mencuci kedua tangan, mebersihkan pangkal rambut di dahi, membersihkan telinga, dan yang terakhir mencuci kaki. Ya, aku perhatikan setiap gerakan mereka. Alhamdulillah, karena sering mempraktekkanya, akhirnya aku mulai bisa dan hafal.
            Begitu juga dengan shalat, senang rasanya bisa shalat berjamaah dengan teman-teman di PT. Orang-orang bilang, shalat berjamaah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian. Waktu itu aku belum faham benar soal pahala. Yang kutahu, imam membaca bacaan dengan keras, sementara kami hanya mengaminkan jika mendengar surat alfatihah. Ya, aku hanya berdiri, lalu ikut mengamini imam, dan mengikuti gerakan-gerakan teman-teman. Waktu itu, aku baru bisa membaca surat Al-Fatihah saja. Jadi shalatku, ya hanya berisikan surat Alfatihah. Namun begitu, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan shalat itu.
             Dan seiring berjalannya waktu, aku makin rajin menghafal bacaan-bacaan shalat. Baik bacaan-bacaan niatnya, maupun bacaan-bacaan lainnya di dalam shalat. Seperti ketika ruku, sujud, duduk tahyat awal dan akhir, dan lain-lain. Sungguh, walaupun aku baru mengerti sedikit tentang islam, namun aku benar-benar jatuh hati, dan makin termotivasi untuk terus mempelajarinya.
             Setelah 5 bulan lebih di penampungan, akhirnya aku terbang juga ke Hong Kong. Alhamdulillah, mendapatkan majikan yang lumayan baik. Bisa mengerjakan shalat, dan menghindari masakan babi. Karena kebaikkan majikan pula, mempermudahkan langkahku untuk terus mendalami islam.
            Setelah satu tahun di Hong Kong, aku mulai mengenal berbagai organisasi keagamaan. Demi memperdalam agama yang kucintai, akhirnya aku masuk ke salah satu organisasi Islam. Di sana, aku berbaur dengan teman-teman yang agamanya lebih bagus. Dan ini kesempatanku untuk terus menggali ilmu dari mereka. Apalagi, organisasi ini juga memiliki sebuah perpustakaan. Banyak buku-buku islami yang bisa aku baca dan ku bawa pulang.
             Aku termasuk orang yang suka membaca buku sejak kecil. Makanya, setelah melihat buku-buku materi islami, hidayah, novel, nonfiksi atau buku-buku lainnya, di perpustakaan, aku langsung tertarik untuk memasukinya. Datang ke organisasi paling awal, lalu duduk di pojok, sambil khusuk melahap buku-buku tersebut. Terkadang, teman-teman pun heran dengan hobbyku yang satu ini.
            Dari sanalah, aku banyak-banyak belajar tentang dunia islam yang indah ini. Subbhanalah….aku benar-benar merasa bahagia, telah memeluk agama yang paling diridhai Allah ini. Karena dari buku pula, aku banyak memahami hadist-hadist rasul, dan tuntunan islam lainnya. Bahkan bisa dibilang, sebelum aku mengenal islam lebih jauh, buku-bukulah yang mengantarkanku untuk lebih dulu memahaminya.
            Terus terang, aku banyak belajar islam secara otodidak. Baik dari membaca buku-buku maupun bertanya pada teman-teman. Maklum, hidup dalam perantauan yang negaranya non muslim. Lagipula, aku tak mau menyusahkan teman-teman yang sama-sama bekerja sebagai TKW di negeri perantauan ini. Pertemuan kami hanya seminggu, maka waktu sehari itu, aku isi dengan belajar dan banyak bertanya ini dan itu.
             Dan kendala yang terasa berat, adalah belajar membaca Al-Qur’an. Aku kesusahan untuk belajar iqra, apalagi membaca Al-Qur’an. Mungkin karena aku bukan anak-anak lagi, usiaku sudah tergolong tua untuk belajar dari awal. Pikiran telah bercabang-cabang, sehingga tak bisa lagi konsentrasi belajar. Seperti memikirkan pekerjaan, orangtua, mikir masalah ini dan itu, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kuakui, belajar membaca A-Qur’an terasa agak berat. Berbeda dengan anak-anak, mereka yang belum memikirkan kebutuhan hidup, akan lebih cepat mengingat huruf-huruf atau nahafan-hafalan lainya. Namun begitu, aku tak pernah mengaku kalah untuk belajar. Karena setiap minggunya, aku akan belajar iqra di organisasi tersebut.
COBAAN HIDUP
            Hingga kini, 11 tahun sudah aku menjadi seorang muslimah. Suka dan duka, silih berganti mewarnai kehidupanku. Alhamdulillah, perlahan hidupku mulai tertata. Bisa shalat, puasa, zakat, dan lain-lain seperti muslimah lainnya.
            Dan seiring bergulirnya waktu, selama 11 tahun pula, coaan demi cobaan telah kulaui dengan sabarnya. Walau kuakui, terkadang aku merasa lelah karena cobaan-cobaan tersebut, namun aku sadar, Allah tak akan memberikan cobaan pada hambanya melebihi dari kemampuan hamba itu sendiri.
            Bukan pula aku mengatakan, cobaan datang setelah memeluk agama Islam. Bukan…!. Aku yakin, bukan karena pergantian agama, cobaan itu datang karena semua mahluk hidup itu pasti akan merasakan suka dan duka. Itulah yang di sebut pelangi kehidupan. Adakalanya kita terlihat merah, biru, dan lain-lain. Karena pelangi itu memiliki keindahan warna. Tanpa warna, langit akan terlihat pucat. Begitu juga dengan kehidupan, tanpa adanya suka dan suka yang silih berganti, pasti akan terasa hambar.  
            Pernah seorang ustadz berkata, semalang-malangnya orang, adalah mereka yang belum pernah kecurian, atau terkena musibah. Terus terang, aku mengernyitkan dahi, mengapa demikian? Kembali beliau berkata. Karena dengan kecurian (kemalingan/kehilangan) kita hakikatnya sedang diperingatkan. Ada hak orang lain dalam diri harta tersebut, yang sudah seharusnya berbagi. Yaitu dengan sodakoh, atau infaq untuk para yatim dan kaum dhuafa.
           Begitu juga dengan musibah. Dengan adanya musibah, misalkan kita sakit, hakikatnya kita sedang di ingatkan pula, bahwa tubuh perlukan hak-nya. Jangan berlebihan dalam memakan makanan yang tidak baik bagi badan, misalkan sambal, atau rokok, apalagi minuman yang di haramkan. Selama sakit, kita sedang di suruh untuk intropeksi diri, agar sehat kelak, kita pandai-pandai menjaga tubuh dan lain sebagainya. untuk menghargai waktu sehat kita.
            Dan cobaan yang paling besar adalah ketika aku telah menikah. Sebagai seorang mualaf, tentunya aku inginkan seorang pendamping yang mampu membimbingku dalam mengerjakan ibadah. Pernikahanku dengan suami di landasi cinta. Kami berpacaran 8 tahun lebih lamanya, sebelum aku memeluk islam. Ya, kami berpacaran ketika kami sama-sama duduk di bangku sekolah SMEA. Akhirnya, setelah aku pulang dari Hong Kong, kami melangsungkan pernikahan.
            Namun sayang, pernikahan tak langsung lama. Suamiku ternyata tak mampu membimbingku. Dia tak mampu menjadi seorang imam bagi keluarga kecilnya. Dia yang kuanggap orang islam yang baik, justru sebaliknya. Ia tak pernah melakukan shalat, puasa, ataupun ibadah lainnya. Setelah kami menikah, ia bahkan tak ubahnya seperti lelaki yang tak menikah. Sebagai seorang istri, ingin sekali aku shalat berjamaah bersama suamiku. Mungkin damai rasanya. Namun sayang, ketika aku ajak shalat, dia selalu mengelak. Bukan sekali dua kali, namun setiap kali. Ya, setiap kali aku ingatkan dia untuk shalat, dia justru mengataiku kalimat-kalimat yang tak baik, yang tak seharusnya kutuliskan di lembar yang sempit ini. Masya Allah…!
             Walau begitu, aku tetap sabar dengan kekurangannya. Hingga lama. Dia tak berubah. Dia yang kukenal selama 8 tahun lebih lamanya, dari sekolah hingga ke Singapura dan Hong Kong, justru tak berlangsung lama kebersamaanya. Demi Allah, aku memahami, bahwa perceraian itu sangat dibenci oleh Allah, namun demi kelangsungan hidup kami, maka aku putuskan untuk  berpisah. Yang lebih menyakitkanku lagi, suamiku ternyata memiliki wanita simpanan lain di hatinya. Tiada kuduga, wanita itu adalah sahabatku sendiri yang telah mengenalkan islam dari Singapura. Pendek kata, selama 4 tahun lebih, kami telah berbagi kasih. Suamiku telah memadukan aku dengan sahabatku di Singapura.
              Ya, sangat terasa menyakitkan, cinta jarak jauh membuatku trauma. Akhirnya, aku kembali ke HK, dengan harapan baru. Yaitu ingin konsentrasi beribadah, dan mencari modal sebelum memiliki keturunan. Kuakui, cobaan setelah memeluk Islam itu, bukan dari orang lain, namun justru dari suamiku sendiri.
HIKMAH BESAR SETELAH MEMELUK ISLAM
             Setelah aku sampai di Hong Kong, kembali aku menata hidup yang pernah tercecer. Kuakui banyak hikmah yang bisa kuambil dari musibah-musibah yang pernah kualami. Dulu, sebelum aku memeluk Islam, aku jarang menangis. Mungkin bahkan tak pernah menangis. Namun setelah aku memeluk agama yang Indah ini, aku jadi sering menangis. Sering merasa bersalah, bahkan berdosa, hingga harus memohon ampunan pada Allah.
            Dulu, aku tak pernah mengenal kalimat istighfar, sehingga ketika hati di landa gundah gulana, jiwa terasa hampa, karena tak tahu harus kemana kuadukan masalah tersebut. Namun setelah aku memeluk Islam, dan memahami banyak kalimat serta doa, maka aku akan segera beristighfar, memohon ampunan pada Allah semata. Ketika senang, dengan spontan akan berucap Subbhanallah, atau Alhamdulillah. Ketika akan memulakan aktifitas, akan berucap basmallah. Ketika mendengar orang terkena musibah, bibir segera beristirja. Ya, dengan kalimat-kalimat ini, jiwa akan terasa tenang. Bahkan terasa dekat dengan Sang Khaliq. Itulah perbedaan yang terasa bagiku.         
             Jika bingung untuk menentukan sikap, aku akan shalat malam, dan berlama-lama mengadukan kerisauaku pada Allah. Sungguh, semakin aku mengenal tatacara dan kehidupan Islam, aku benar-benar semakin jatuh cinta pada agama ini.  Di Islamlah aku mengenal kesabaran, tanggung jawab, dan kebersihan. Karena dalam islam, kebersihan adalah sebagian dari iman.
HARAPAN BERSAMA ALLAH KE DEPAN
             Tak muluk-muluk harapanku dalam hidup ini. Ingin memperkokoh, dan mendalami pondasi iman. Menjauhi semua larangan-laranganNya, dan mematuhi setiap aturan-aturanNya. Menyadari bahwa nyawa bisa di cabut kapan saja, maka aku ingin kembali padaNya, dalam keadaan khusnul khotimah. Aku ingin seperti muslimah lainnya. Istiqomah dalam melakukan shalat, dan belajar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Hidup apa adanya, karena mensyukuri nikmat dariNya.
            Ingin menutup semua masa lalu, dan menjadikannya ia sebagai pelajaran ke depan. Memaafkan, dan mengiklaskan masa lalu, dan menjelang masa depan dengan pikiran yang iklas karena Allah Ta’ala. Dan sebagai muslimah, aku ingin memiliki suami yang baik, yang taat pada agama, serta bertangung jawab. Karena kelak, aku ingin melahirkan generasi yang baik, sebagai penerus agama.  Anak-anak yang shaleh, keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah, dan iman yang kuat. Jika Allah perkenankan, aku ingin melakukan ibadah Haji ke tanah suci, kelak. Amin (*)