MONOLOG
TEMA
“PELANGI BMI”
Dengan
judul
“LASTRI MENUNGGU BEBAS”
Lokasi
adalah ruang tamu rumah majikan.
Ada sofa, meja, sapu,
kertas yang bercecer di lantai.
LASTRI :
Sambil
mengelap meja di ruang tamu.
“Ya, begini nasib jadi
pembantu. Wong meja sudah mengkilap saja disuruh ngelapin terus. Sampai saya sendiri
bingung, bagaimana cara ngelapnya. Bukan tambah mengkilap, eh malah jadi bures.
Bayangin saja, wong ngelapnya sehari
tiga kali. Ealah, ngomong sehari tiga kali, kok kaya pasien makan obat saja, ya.
Ini gara-gara majikan saya kena PHK. Sekarang ndak kerja. Nganggur! Coba kalau majikan saya
seorang direktur, atau minimal kondektur, ya pastinya mereka ndak ada waktu
mengatur-atur. Mereka sibuk kerja, bahkan sampai lembur. Ini hanya, andai kata,
lho!. Hik hik….
Tapi apa mau dikata, ini
sudah jadi jalan saya.Ya, musti diterima apa adanya. Kata wong jawa, nrimo ing pandum. Kalau ndak kerja, malah
repot. Moso ikutan nganggur. Alamat gak dapat jatah. He he, maksud saya, ndak dapat gaji. Wong dibayar,
juga untuk bekerja. Iya, ndak, Mbak-Mbak?! (bertanya pada penonton)
Masih
sambil ngelapin meja, dan sofa.
Ngomong-ngomong soal
makan obat tadi, kira-kira, ada ndak,
obat untuk saya, ya. Saya lagi jadi pasien, nih. Lha sedang sakit. Tapi
sakitnya ndak kelihatan. Soalnya
sakitnya di sini (nunjuk dada, pada
penonton)
Sakit saya, sakit hati!
(kembali nunjuk dada). Lha, bagaimana ndak sakit. Saya jauh-jauh merantau,
meninggalkan keluarga, meninggalkan anak-anak, meninggalkan kampung halaman,
meninggalkan tanah air tercinta, eh malah hasilnya gak tahu kemana. Ndak ada
jejak, padahal sudah bertahun-tahun
lamanya. Yang ada hanya kuitansi, bukti pengiriman uang. (sambil megang beberapa kertas, yang ditunjukan pada para penonton)
muka sedih.
Pernah saya tanya sama
orang rumah. Kemana semua uang yang pernah saya kirim selama ini?!. Lalu mereka
menjawab, katanya, uangnya udah habis
untuk beli kebutuhan. Saya juga sakit hati sama suami, yang mengaku ada main
sama tetangga. Bahkan dengan sengaja dia memarahin saya di depan perempuan itu,
yang katanya sanggup memberikan yang suamiku mau! Weladalah..!!
Saya juga orangnya ndak
suka neko-neko. Ndak seperti temanku yang katanya, membahagiakan suami, atau pacar,
lewat hp. Duh, sia-sia uang, sia sia waktu saja. Maap, lho. Saya ndak lagi
nyindir sampeyan. Saya yakin, panjenengan ndak kaya gitu.
Sewaktu saya telpon
tetangga sebelah, yang biasanya ikut
ngutang duwit kalau saya ngirim uang, malah dia bilang, katanya, uangku
itu sudah abis sama orang rumah, untuk beli kebutuhan yang gak kelihatan. Saya bingung, kok gak
kelihatan bagaimana. Kembali dia menjawab, katanya, kebutuhan yang gak
kelihatan ya di kebun. Udah dimakan sama bambung hitam.
Oalah…..(Ngusap dada) Panjenengan faham, to,
mbak-mbak? (bertanya sama penonton)
Kerja
bertahun-tahun, tapi hanya jadi penanggung kebutuhan doank! Duh Gusti Pengeran
Ingkang Manunggal, Engkaulah saksi abadi…
Belum hilang sakit hati saya sama orang rumah,
datang lagi sakit yang lain. Sainem, teman sedesa saya, teman sepermainan ,
juga teman seperjuangan saya, katanya sedang menangis. Tangisnya itu, membuat
orang di rumahnya menangis. Bukan hanya keluarganya, tapi semua yang mendengar
kabarnya. Karena penasaran, saya bertanya sama keluarga. Mengapa Sainem
menangis. Dan jawaban mereka membuat saya ikut tersedu-sedu. Katanya, Sainem
menangis, karena dia sedang menunggui tali di tiang gantungan. Duh….! (kembali
ngusap dada) Nelongso, atiku nelongso! (nyanyi dangdut ala Evi Tamala….)
Saya kembali bingung.
Dalam hati, ndak rela melihat kesengsaraan teman sepermainan saya itu. Saya
pengen sekali menolongnya. Tapi ndak tahu bagaimana caranya. Wong saya sendiri
juga sedang nguli di rumah majikan kok!.
Berjam-jam saya memutar
otak untuk mencari jalan keluar, supaya bisa nolong Sainem. Namun tetap saja
ndak nemu jalan keluar. Akhirnya, saya cerita masalah ini ke Yu Paitun. Tapi
dia juga ndak bisa nolong. Kami berdua bingung. Saya panggil teman-teman yang
lain, untuk membicarakan hal ini. Siapa tahu ada jalan keluar. Kata orang,
kalau memecahkan masalah sendirian, itu gak kaya kalau beramai-ramai.
Berjamaah, kata pak yai.
Akhirnya, saya panggil
Tukiyem, Rasinem, Paijo, Ponia, dan teman-teman yang lain. Setelah berkumpul,
kami rapat. Berbisik dengan penonton.
(Pinjam bahasanya, bu direktur, gak apa-apa, ya Mbak. Keren dikit. Gitu)
Waktu itu, rapat diadakan
di bawah pohon kemiri, di pinggiran lapang viktori. Maklum, di sanalah tempat yang
paling aman untuk rapat. Ngomong masalah aman, sebenarnya, gak aman juga di
sana. Kadang si Pak De (Orang-orang imigrasi, dan satpam) itu juga rese. Mereka
kadang ngusir-ngusir kami. Baik yang lagi berorganisasi, mapun yang lagi meeting.
Tapi ya, mendingan, free, gak bayar tempatnya. Hanya tinggal manggil tukang
plastic, sama kacang rebus, sudah cukup deh.
Soalnya kalau mau rapat
di Starbuck, atau di Mc Donald, biasanya kami kena gusur. Katanya, hanya beli secawan kopi, ngerumpinya
berhari-hari. Apalagi kalau rapatnya di dekat hotel besar di pinggir jembatan
layang itu. Yang ada tulisan di tiap tangganya, ingat ndak. Di sana, kami malah
kena usir, eperannya saja sengaja di siram dengan air. Katanya biar aman. Biar
gak untuk rapat para semut merah. Duh, nelangsanya. Wong kita mau rapat, kok
malah dibilangnya semut merah yang menganggu pemandangan hotel mereka.
Wes, gak popo. Apapun
julukan mereka pada kita, tak trimo. Di tampa yo, mbak. Yang penting rapat
tetap dijalankan.
Minggu lalu, kata
Tukiyem, dia dan gengnya baru rapat soal nasib saudaranya yang ndak digaji
full, yang sakit ndak di kasih obat, yang ndak dikasih libur, yang di PHK tapi
ndak di kasih haknya, dan macam-macam. Katanya, rapatnya, sukses! Minggu ini,
kami rapat, bagaimana agar saudara kami yang satu ini, bebas juga dari tali
gantungan. Semoga juga sukses!
Kang Paijo bingung.
Wong suara kami hanya sedikit, siapa yang bisa denger? Katanya. Dengan semangat
empat lima, Yu Rasinem memastikan suara kami didengar masyarakat luas. Katanya,
walau sedikit, suara kita harus kita gembar gemborkan dari sekarang. Boking
semua mic, boking semua karaoke (eh salah ucap) maksudnya, boking semua media.
Suarakan suara kita sekencang-kencangnya, biar mereka dengar!.
Saya ikutan bingung.
Lalu saya tanya, maksudnya, mereka itu siapa Yu?
Lho, ya mereka Dik.
Mereka para saudara kita di seluruh dunia. Kita harus memberitahukan mereka,
supaya Sainem selamat dik. Dia membutuhkan suara kita.
Kang
Paijo nyletuk.
Memangnya, mereka
menganggap kita saudara? Tanyanya ragu.
Iya, ya, Kang. Kita ini
siapa? Potong Ponia.
Dik, kalian semua
dengar ya. Biarpun kita ini kuli, biar kata orang, kita adalah TKW, pembantu,
dan lain sebagainya, tapi asli lho, kita ini adalah pahlawan. (saya, Ponia dan Kang Paijo, melongo. Terkejut) Pahlawan?
Kata saya
Tanpa kita, orang rumah
keteteran soal uang kiriman untuk beli kebutuhan. Untuk biaya iuran sekolah
anak-anak. Untuk beli pupuk padi. Dan untuk merenovasi gubug. Iya, to?!
Tanpa kita, majikan
kita juga kewalahan dengan pekerjaan-kerjaannya. Mereka ndak mungkin membawa
anak-anaknya ke kantor, kan. Mereka perlukan kita untuk mengantar anaknya ke
sekolah, memasak, dan membersihkan rumah. Apalagi yang memiliki orangtua yang
sudah renta. Mereka perlukan tenaga kita untuk merawat orangtuanya. Memandikan,
menemani, dan memasakan makanannya.
Tanpa kita, orang-orang
yang menghasilkan uang devisa, Negara akan semakin melarat. Udah banyak
pengangguran, tak ada pemasukan uang. Makanya, kita di panggil pahlawan devisa,
sebab kita yang menghasilkan uang bagi
Negara. Kita membantu perekonomian Negara. Bayangkan saja, berapa jumlah
kiriman para TKI di seluruh dunia, setiap harinya. Dan itu salah satu,
pemasukan uang untuk Negara. KITA PAHLAWAN! Man teman semua!!
OOO, maksudnya, Negara
menjual kita? Tanya Yu Paitun, yang sedari tadi mengernyitkan keningnya.
Ya, semacam itu, Yu!
Sampeyan ini semakin pinter saja.
Kalau begitu, apa gak
sebaiknya kita minta bantuan sama Negara, untuk membebaskan Sainem.
Ya, harus! Tapi yang
sekarang jadi masalah, yang namanya Negara itu siapa? Giliran Yu Ponia yang
bingung. Apa Pak Presiden juga disebut
orang Negara?
Ya, bisa Yu. Justru
itu. Pak Presidenlah orang yang pertama yang bisa menolong Yu Sainem.
Seharusnya dia perintahkan orang-orang
kabinetnya, untuk mengatasi masalah kita, para TKI, Para BMI. Bukan
nyuruh orang-orang bikin WC di gedung dengan harga milyaran. Memangnya WCnya
mau pakai emas apa berlian? Kalau untuk WC uang gak kelihatan banyak, tapi
untuk keperluan anak yatim, atau BMI, sedikit saja kelihatan banyak. Mereka sayang
mau ngeluariannya. Huft…..jadi panas, nih dada!
Kabinetnya itu apa dan siapa
saja, sih? Lagi-lagi tanya Yu Rasinem. Saya hanya menyimak. Takut salah.
Ya, rika yu. Masa Kabinet
gak ngerti. Dulu gak makan pojok sekolahan ya, rikane! Nih dengerin ya, Kabinet itu
suatu badan yang terdiri dari pejabat pemerintah senior/level
tinggi, biasanya mewakili cabang
eksekutif. Kabinet dapat pula disebut sebagai Dewan
Menteri, Dewan Eksekutif,
atau Komite Eksekutif,
penyebutan ini tergantung pada sistem pemerintahannya dan diketuai oleh presiden atau perdana
menteri sebagai pimpinan cabinet. Gitu Yu.
Faham kan Rika….(sambil mgos-ngosan. Capek njelasin soal cabinet) Semua mengangguk-angguk.
Untuk mengatasi BMI,
pemerintah pastinya sudah menyerahkan tugasnya pada kementrian yang telah ditunjuk.
Namun sayang, mereka itu kurang peka dengan keadaan kita ini. Bayangkan saja,
mendengar BMI disiksa saja, malah mereka nyalihin kita. Katanya, itu kesalahan
kita karena bodoh, dan memalukan Negara dengan jadi pembantu. Apa dia gak punya
perasaan ya? Memangnya kita ini mau ninggalin keluarga bertahun-tahun, kalau di
Negara sendiri berlimpah pekerjaan untuk kita! Apa kita mau ninggalin anak-anak
kita yang masih membutuhkan air susu ibu, kalau di kampung kita, suami bisa
menjamin makanaan dan tempat tinggal untuk kita. Nggak kan, wong suami-suami
kita malah nganggur. Dia malahan nyuruh
kita kerja. Wong di luar negeri justru yang di butuhkan tenaga kerja perempuan,
bukan laki-laki. Iya to?
Namun, apa yang membuat
kita nekat merantau jauh, tidak lain dan tidak bukan karena suami kita tak
memiliki pekerjaan. Karena kita memikirkan masa depan anak-anak kita. Karena
kita perlukan uang untuk biaya hidup. Kita adalah wanita-wanita yang tak suka menganggur!. Kita juga bukan
wanita yang suka membuang-buang waktu dengan percuma! Kita ini, ingin menolong perekonomian
keluarga, perekonomian Negara. Menolong orangtua, suami, dan anak-anak! Kita
pahlawan dik. Pahlawan….!!! (Ucap
Tukiyem berapi-api.)
KEMBALI LASTRI YANG
SEDANG BERADA DI RUANG TAMU.
Hm….kalau saya salah
satu dari pahlawan, tapi kenapa nama saya tak ada dalam daftar nama pejuang ya?
Yang ada, hanya daftar BMI, dan daftar rakyat miskin. Hik hik…..(tertawa)
Malahan, kami sering dimaki
oleh mereka. Dianggap sebelah mata, oleh orang-orang yang katanya duduk di
kursi atas. Dibedakan derajatnya. Tak dihargai sama sekali. Ah, sungguh
menyedihkan! Terima ndak kita di injak-injak oleh mereka mbak-mbak?? (Bertanya pada para penonton)
DATANG NYONYANYA,
MEMBAWA MAJALAH.
Wei, ngapain kamu!
Suruh kerja, kok ngobrol melulu! Memangnya di Hong Kong ngobrol itu gratis? Gak butuh duwit, ya?! Tegur si majikan.
Lastri
tersenyum, sambil memasukan kembali hp-nya ke saku.
He he, nyonya, sudah bangun ta? Mau sarapan apa Nya? Nanti saya buatkan.
Tanyanya.
Ndak usah! Aku mau
makan di luar saja!
LASTRI TERSENYUM SENANG
MENDENGAR NYONYANYA MAU KELUAR.
Rapatnya bisa di
lanjut, nih. (bisiknya pada penonton)
SETELAH NYONYA KELUAR,
KEMBALI LASTRI BERCERITA TENTANG KELANJUTAN RAPATNYA.
Kali ini, Lastri sambil
nyapu dan ngepel.
Tadi ceritanya sampai dimana ya mbak-mbak? (bertanya pada penonton.)
Oh, iya. Ingat sekarang. Sampai orang yang duduk di atas ya
tadi. Nah, setelah kami sepakat, keesokan harinya, yang pas kebetulan hari
libur, kami berteriak-teriak di jalan raya, meminta Sainem di bebaskan.
Tadinya, hanya lima orang, semakin lama, semakin bertambah. Semakin lantang
suara kami, semakin bertambah lagi orang-orang yang ikut bergabung, ikut
meneriakan pembebasan Sainem. Orang
bilang kami ini sedang demo. Akhirnya, sampai berhari, semakin bertambah,
bahkan tak terhitung jumlah orang yang menyokong pembebasan itu. Saya di
dalamnya, jadi merasa terharu, ternyata benar kata Yu Rasinem, Sainem memang
membutuhkan suara kita. Suara orang banyak. Hanya dengan suara!
Setelah dimana-mana
orang lantang berteriak menginginkan kebebasan Sainem, orang yang duduk di
kursi atas, mulai kepanasan. Mereka bingung. Akhirnya, mungkin mereka takut gedung istana di bakar
massa, denger-denger mereka pun berangkat untuk membebaskan Sainem. Lega
mendengar Sainem bebas dari tali tiang gantungan. Katanya sekarang dia telah pulang ke
kampungnya. Bercocok tanam di rumah.
Mengingat itu, saya
jadi merasa iri sama Sainem. Dia sudah pulang, berarti dia sudah bebas, kan?
Sudah merdeka. Sudah bukan TKW lagi. Sudah mandiri, di kampung.
Kalau saya kapan
bebasnya, ya? Kapan bebas dari mata majikan. Bebas dari julukan derajat rendah.
Bebas dari sebutan TKW. Bebas dari dibeda-bedakan, dan bebas menanggung beban?? (Kapan,
ya mbak-mbak??. Bertanya pada penonton, sambil melamun. Menggantungkan asa di
langit yang mendung)
ENDING
YANG MENGGANTUNG….
TAMAT






